Blogger Widgets
- See more at: http://www.komputerseo.com/2010/12/cara-membuat-teks-bergerak-melingkar.html#sthash.WfcLdHgR.dpuf

Rabu, 15 Mei 2013

Akhlah Terhadap Orang Tua



Salah satu ajaran paling penting setelah ajaran Tauhid adalah berbakti kepada kedua orang tua. Bahkan, menurut pendapat banyak ulama, ajaran berbakti kepada kedua orang tua ini menempati urutan kedua setelah ajaran menyembah kepada Allah S.w.t. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (Q, s. al-Isra’ / 17:23)
Ada tiga kelompok yang disebut orang tua dalam ajaran Islam. Pertama, “الأب الذي ولدك“ : bapak-ibu yang melahirkan, yaitu bapak-ibu kandung. Kedua, “الأب الذي زوجك“ : bapak-ibu yang mengawinkan, yaitu bapak-ibu mertua. Ketiga, “الأب الذي علمك“ : bapak-ibu yang mengajarkan, yaitu bapak-ibu guru. Ketiga kelompok inilah yang diwajibkan atas kita untuk menghormati dan berbuat baik kepadanya.
Menghormati mertua dan guru harus sama seperti menghormati kedua orang tua sendiri. Sebab mertua adalah bapak-ibu kandung dari istri atau suami kita. Ketika seseorang menikah, maka ia telah menikah dengan anak dari seorang ayah dan ibu, dan bukan –maaf– anak hewan. Bagi seorang suami, misalnya, keduanya bersifat mertua, tetapi bagi istrinya keduanya adalah orang tua kandung. Demikian pula sebaliknya. Ketika seseorang menginjak dewasa, bapak-ibu gurulah yang mengajarkannya tentang banyak hal hingga ia menjadi mengerti tentang banyak hal dalam kehidupan ini.

Maka, kewajiban menghormati orang tua dalam Islam merupakan salah satu ajaran yang sangat penting dan prinsip. Ketika Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua, maka perintah ini sebetulnya sangat bisa dipahami. Cobalah bayangkan, bagaimana repotnya ibu ketika mengandung selama kurang lebih 9 bulan. Kerepotan ibu, juga bapak, semakin bertambah ketika kita terlahir ke dunia, mulai dari merawat, memelihara, dan memberinya makan dan minum dengan penuh kasih sayang. Bagi orang tua tidak ada yang lebih berarti daripada sang jabang bayi yang baru saja dilahirkannya. Mereka sangat bahagia dengan tangisan dan kotorannya, akan tetapi mereka akan sedih ketika harus melihatnya sakit.
Dalam konteks berbuat baik kepada kedua orang tua, Al-Qur’an menganjurkan agar kita melakukannya dengan cara “ihsān”. Ihsan artinya kita melakukan sesuatu lebih dari sekedar kewajiban. Shalat lima waktu merupakan kewajiban, tetapi jika kita menambahnya dengan shalat-shalat sunnah lainnya, maka itulah ihsan. Puasa Ramadhan adalah kewajiban, dan jika kita mampu menambahnya dengan puasa-puasa sunnah, puasa Senin-Kamis misalnya, maka itulah ihsan.
Berbuat baik kepada kedua orang tua harus diupayakan secara maksimal, secara ihsan, lebih dari sekedar kewajiban kita terhadapnya. Jika sang anak ingin memberikan sesuatu kepada orang tua, berikanlah yang maksimal. Karena yang maksimal saja belum tentu dapat sebanding dengan jerih payah dan pengorbanan keduanya selama ini dalam mengasuh dan membesarkannya. Seseorang bisa menjadi dokter, tentu berkat orang tua. Menjadi insinyur, juga berkat orang tua. Menjadi ulama juga berkat orang tua. Bahkan menjadi presiden juga berkat orang tua. Setidaknya, karena do’a orang tua itulah seseorang berhasil menggapai apa yang diusahakannya.
Itulah pengorbanan orang tua dalam memelihara, mengasuh dan membesarkan kita hingga seperti ini. Oleh karenanya, Al-Qur’an lagi-lagi menegaskan:

وَوَصَّيْنَا الإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (Q, s. Luqman / 31:14)
Jadi menurut Al-Qur’an ibu mengandung, melahirkan dan menyusui adalah suatu pengorbanan yang luhur, yang menuntut adanya balasan terimakasih dari anaknya. Ini berbeda dengan Genesis dalam Perjanjian Lama yang mengatakan bahwa wanita mengandung, melahirkan dan menyusui adalah akibat dosanya (melalui Hawa, istri Adam) yang telah melanggar larangan Tuhan di Surga.
Berbuat baik kepada orang tua dalam Islam bersifat mutlak. Artinya andaikata ada diantara kita yang kedua orang tuanya kebetulan berbeda agama, Al-Qur’an tetap mengajarkan untuk berbuat baik kepada keduanya. Artinya, berbuat baik kepada kedua orang tua itu tidak didasarkan atas kesamaan agama, tetapi lebih karena jasa-jasa baik keduanya terhadap perkembangan dan jati diri kita.

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q, s. Luqman / 31:15)
Dalam rangka berbuat baik kepada kedua orang tua tersebut, Al-Qur’an mengajarkan agar kita berdo’a:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً
Ya Tuhanku, berilah rahmat kepada kedua orang tuaku, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku di waktu kecil. (Q, s. al-Isra’/17:24)
Maka, barangsiapa yang durhaka kepada kedua orang tua, Allah akan melaknatnya, dan mengharamkan surga baginya.

رِضَى الله في رِضَى الوَالِدَيْنِ وَسُخْطُ اللهِفيِ سُخْطِ الوَالِدَيْنِ (متفق عليه)
Keridhaan Allah tergantung pada keridhaan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah tergantung pula pada kemurkaan kedua orang tua (HR. Muttafaq ‘Alaih)
Dikutip dari: dayah pesantren Baitul Arqam

Adab Guru dan Murid


Oleh Mulyadi Nurdin, Lc, MH

Adab lebih tinggi dari ilmu, demikian pemahaman masyarakat Aceh mengenai pentingnya adab dan sopan santun dalam kehidupan, adab itu sendiri berlaku bagi semua kalangan, baik masyarakat umum hingga ulama sekalipun.
Adab di Aceh sudah menjadi tata krama yang mentradisi dari generasi ke generasi, sehingga melahirkan kondisi sosial masyarakat yang santun, lembut dan menghormati orang lain.
Dalam dunia pendidikan juga sama, adab itu sangat dijunjung tinggi, seorang murid harus menghormati guru, demikian juga guru harus menghargai muridnya, sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan harmonis dan bebas dari beban psikologis.
Suasana penuh keakraban dapat kita lihat dalam lembaga pendidikan agama di Aceh, tidak pernah terjadi murid memprotes guru dengan cara yang tidak wajar apalagi demonstrasi tanpa kendali.

Adab Guru
Berikut beberapa kutipan tentang adab yang harus dijaga dalam dunia pendidikan sebagaimana yang diutarakan oleh Syeikh Muhammad anak dari Syeikh Khatib dalam kitabnya Dawaul Qulub.
Bermula adab orang yang alim tujuh belas perkara:

1. Ihtimal (menanggung semua pertanyaan dan pekerjaan dari muridnya).
Seorang guru harus profesional di bidangnya, sehingga mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi muridnya. Guru bukan hanya mentransfer ilmu tetapi juga memberi solusi dari persoalan yang dihadapi muridnya.
2. Jangan lekas marah.
Seorang guru harus berjiwa besar dalam mendidik, tidak boleh emosi dalam mengajar tetapi sebaliknya harus selalu tabah dan sabar.
3. Duduk dengan kelakuan yang hebat dan menundukkan kepala.
Guru diharapkan menjadi figur yang disegani oleh muridnya, sehingga dalam tingkah lakunya harus menunjukkan kewibawaan dan kharisma, walau duduk dengan posisi tegap tetapi selalu menundukkan kepala sebagai simbul dari kearifannya.
4. Meninggalkan takabbur
Sombong merupakan sifat yang dilarang bagi manusia, apalagi bagi seorang guru, sebagai pendidik dia harus mengajarkan sifat-sifat mulia kepada muridnya dan tidak menunjukkan takabbur di depan anak didiknya.
5. Merendahkan diri
Tawadhuk bukan berarti terlihat hina di depan manusia, akan tetapi ia merupakan sifat yang biasanya dimiliki oleh orang yang berhati mulia, seorang guru harus menunjukkan kerendahan hatinya.

6. Jangan bermain-main dan bersenda gurau
Dalam masyarakat Aceh sangat pantang seorang guru bersenda gurau dengan muridnya karena hal itu dapat mengurangi kawibawaan.
7. Kasih sayang segala muridnya
Guru harus memberikan perhatian yang sama pada seluruh muridnya tanpa pilih kasih. Dengan demikian semua anak didik akan mendapatkan perhatian yang sama dan memotivasi mereka dalam mencerna ilmu pengetahuan.
8. Perlahan-lahan atas pertanyaan orang yang bebal
Tentu saja ada orang yang berlaku kasar dan tidak sopan dalam beberapa majelis pengajian, dalam hal ini seorang pendidik harus bisa menyikapi hal tersebut dengan bijaksana dan tidak membalasnya dengan kekerasan, tetapi menjawab pertanyaan tersebut dengan lemah lembut dan tidak emosi.
9. Menunjukkan segala orang yang jahil dan jangan menggerintang (marah) (? Hal 930) orang yang baru belajar.
Guru harus menjadi pelita yang selalu menyinari hati orang jahil supaya dapat mengenal kebenaran dan bertambah ilmunya, seorang guru juga dilarang menyembunyikan ilmunya, dan tidak boleh membentak murid yang baru belajar karena kebodohannya.
10. Jangan malu mengata tiada kutahu jika tiada mengetahui pada suatu masalah atau syak padanya.
Seorang guru tidak boleh bersikap egois, kebenaran hendaklah dijunjung tinggi meskipun ia harus mengaku “belum tahu” atau “tidak tahu” dalam persoalan yang memang belum diketahui jawabannya. Seorang ulama dan guru harus berbesar hati dan selalu profesional sehingga tidak menjawab persoalan dengan pendapat pribadinya.
11. Hendaklah sungguh-sungguh berhadap kepada orang yang bertanya.
Walau sederhana hal ini akan memberi kesan respek dan akrab bagi murid, dengan memandang ke wajah orang yang bertanya menandakan kalau seorang guru tersebut sangat menghargai orang yang bertanya tersebut.
12. Menerima dalil dari murid yang membenarkan akan kata dirinya dan jangan menolak akan dia karena malu, karena mengikut yang benar itu wajib.
Jika ada murid yang lebih pandai darinya, seorang guru harus menerima pendapat murid tersebut, tidak boleh menolak hanya karena merasa lebih pandai, apalagi sampai mengancam murid seakan-akan sudah melangkahi guru atau melawannya.
13. Jangan malu daripada kembali pada masalah yang sudah tersalah.
Maksudnya seorang guru tidak perlu malu untuk mencabut kembali pernyataannya jika memang terbukti pendapat itu salah. Dengan demikian ia akan disegani dan dihormati karena jiwa besarnya.
14. Menegahkan orang yang berajar daripada ilmu yang tiada memberi manfaat.
Seorang guru harus memastikan semua muridnya belajar ilmu yang bermanfaat, jika memang ilmu tersebut tidak bermanfaat ia harus melarang murid untuk melanjutkan belajarnya, jangan sampai murid terus-menerus terjerumus dalam kesesatan dan kebodohan.
15. Menegahkan orang yang berajar yang maksud lain daripada  karena Allah Ta’ala.
Seorang guru harus mampu membentuk karakter muridnya supaya mereka belajar sungguh-sungguh karena Allah SWT, keikhlasan akan membuat proses belajar-mengajar berjalan tanpa diganggu oleh faktor eksternal seperti mengharapkan gaji dan bantuan dari pihak manapun.
16. Menegahkan orang yang berajar fardhu kifayah dahulu daripada fardhu ain. Bermula fardhu ain itu ilmu fiqh, ilmu tauhid, dan ilmu tasawuf.
Seorang guru harus mengarahkan muridnya supaya ada prioritas dalam belajar, jangan mendahulukan pelajaran yang sebenarnya tidak mendesak dilakukan dengan meninggalkan ilmu yang seharusnya dipelajari segera.
17. Beramal ia seperti ilmunya supaya diikut oleh muridnya.
Guru seringkali dijadikan idola oleh muridnya, jika ia beramal sesuai dengan ilmunya sudah tentu murid akan mengikuti jejaknya.

Adab Murid
Di samping adab yang harus dijaga oleh guru, Syeikh Muhammad juga menekankan pentingnya adab bagi murid, kedua pihak harus saling menjaga adab masing-masing.
Pasal pada menyatakan adab orang yang belajar, maka yaitu sebelas perkara:

1. Mendahulu memberi salam akan gurunya.
Budaya salam sangat mengakar dalam masyarakat Aceh, setiap berjumpa dengan orang lain di mana saja selalu disertai dengan memberi salam sambil mengangkat tangan kanan, kalau tidak memberi salam orang tersebut akan dipandang sinis oleh orang lain, seorang murid harus lebih dulu memberi salam jika berjumpa dengan gurunya, kalau tidak dia akan dianggap tidak memiliki adab dan tata krama.
2. Jangan banyak kata di hadapan guru.
Budaya hormat (takzim) guru dalam masyarakat Aceh sangat dijunjung tinggi. Seorang murid dilarang banyak berbicara jika berada di depan gurunya baik di dalam majelis ilmu maupun di tempat lainnya, sebaliknya ia harus memberi kesempatan kepada gurunya untuk bicara dan memberi nasehat.

3. Jangan berkata yang tiada ditanya oleh gurunya.
Dalam ruang belajar seorang murid dilarang berbicara kecuali ketika diminta oleh gurunya. Dengan demikian nuansa belajar terasa nyaman dan penuh konsentrasi.
4. Minta izin kepada gurunya ketika hendak bertanya.
Dalam ruang belajar seorang murid tidak boleh berbicara tanpa izin dari guru, kalau mau bertanya pun dia harus minta izin dulu, kalau diizinkan baru mengajukan pertanyaannya.
5. Jangan dikata akan gurunya bahwasanya si pulan itu bersalahan daripada yang engkau kata.
Bisa saja pendapat guru berbeda dengan pendapat orang lain, dalam hal ini seorang murid tidak boleh mengkonfrontir pendapat gurunya dengan orang lain di ruang belajar, sehingga tidak menjatuhkan martabat guru di depan murid lainnya.
6. Jangan mengisyarat di hadapan gurunya barang yang menyalahi bicara gurunya, maka sangkanya orang lain lebih benar dari gurunya, karena yang demikian itu kurang adab dan berkat.
Jangan sekali-kali murid menyampaikan kata-kata yang membantah pendapat guru atau mengesankan seolah-olah orang lain lebih pandai gurunya.
7. Jangan berbisik-bisik di hadapan gurunya dengan orang lain.
Jangankan berbicara yang tidak perlu, berbisik-bisik saja tidak dibolehkan di depan guru yang sedang mengajar, karena akan menyebabkan guru tersinggung dan merasa diacuhkan.
8. Jangan berpaling ke kiri dan ke kanan di hadapan gurunya, tetapi duduk ia seperti dalam sembahyang.
Disini tercermin bagaimana khusyuknya suasana belajar mengajar dalam masyarakat Aceh. Pola duduk yang dianjurkan di hadapan guru adalah sebagaimana duduk di dalam shalat, tidak menoleh kiri-kanan.
9. Jangan banyak soal tatkala segan gurunya.
Kalau guru dalam keadaan segan jangan menanyakan persoalan yang dapat membebaninya secara psikologis tetapi lebih baik diam saja sambil mendengar pada guru.
10. Hendak berdiri ia tatkala berdiri gurunya atau tatkala datang.
Bentuk lain dari adab murid yang sudah berlangsung lama di Aceh adalah menghormati guru dengan cara berdiri ketika datang atau ketika guru berdiri hendak keluar dari tempat mengajar.
11. Jangan jahat sangka akan gurunya tatkala kau lihat bersalahan perbuatannya dengan ilmumu.
Bisa saja seorang guru melakukan sesuatu yang bertentangan dengan pendapat muridnya, dalam hal ini murid dilarang berprasangka negatif apalagi menegur langsung, karena diyakini seorang guru lebih mengetahui tentang apa yang dilakukannya.
Di antara adab yang ditekankan oleh penulis kitab tersebut adalah tidak boleh belajar kecuali ilmu yang bermanfaat, diiringi niat yang ikhlas karena Allah SWT serta memperbanyak zikir.

Perilaku Murid dalam Masyarakat
Syeikh Muhammad juga menekankan pentingnya style pakaian, penampilan, tingkah laku yang harus dijaga oleh seorang murid. Hal tersebut sebagaimana dituliskan dalam kitabnya:
“Inilah khatimah pada menyatakan segala perbuatan yang tak dapat tiada bagi murid”
Disini syeikh Muhammad mengingatkan para murid agar tetap menjaga jati dirinya dimana pun berada, seperti menjaga pakaian agar selalu menggunakan warna putih karena itu merupakan salah satu sunnah Nabi saw., selalu mendahului dalam memberi salam kepada siapa pun, menyayangi semua orang tanpa pilih kasih, tidak berburuk sangka pada manusia walaupun ia bersifat fasiq sekalipun, tidak boleh menghina orang lanjut usia, serta selalu menuntut ilmu dimana pun  berada. Pesan tersebut adalah:
1. Dan setengah daripadanya memakai ia akan pakaian putih yang tiada baik, karena Allah Taala itu kasih ia akan pakaian putih, dan lagi pakaian putih itu setengah daripada pakaian nabi SAW.

2. Dan setengah daripadanya mendahului memberi salam atas segala manusia karena yang demikian itu alamat tawadhuk lagi sangat kasih hak Allah akan dia.
3. Dan setengah daripadanya mengasih akan segala manusia karena orang yang kasih akan manusia itu kasih hak Allah akan dia.

4. Dan setengah daripada adab murid jangan jahat sangka akan manusia jikalau sangat fasiq sekalipun.

5. Dan setengah daripada adab murid itu jangan menghinakan segala orang yang tuha-tuha dan hendaklah dimuliakan akan dia.

6. Dan setengah daripada adab murid itu sentiasa ia menuntut ilmu, jangan ditinggalkan akan tuntutnya.
Pesan-pesan di atas umumnya sejalan dengan ajaran Islam, walaupun dalam masyarakat hal tersebut telah membudaya dan menjadi jati diri masyarakat Aceh yang memang religius.

Dikutip dari : dayah pesantren Baitul Arqam

Etika Pergaulan Dalam Islam



1.     Etika Pergaulan Dengan Orang Yang Lebih Tua
Sebagian tanda memuliakan Allah adalah menghormati orang Islam yang telah putih rambutnya (tua). (HR Abu Daud).
Tiada seorang pemuda yang menghormati orang yang tua usianya, melainkan Allah akan menyediakan orang-orang yang akan menghormatinya jika ia telah tua usianya. (HR Turmudzi).
Tidak termasuk golonganku orang yang tidak menyayangi orang yang lebih (muda), dan tidak mengerti hak-hak orang yang lebih (tua). Bukanlah termasuk golonganku orang yang menipu kami, seorang mukmin yang lain, seperti mencintai diri sendiri. (Tabrani dari Damrah).
KETERANGAN
Yang dimaksud orang yang lebih tua disini adalah para orang tua kita, yaitu Bapak, ibu, kakek, nenek, paman, bibi, kakak dan orang lain yang lebih tua dari kita.
Kita wajib menghormati orang tua yang telah memelihara kita dan membesarkan, mendidik dan membiayai hidup kita, tidak sedikit pengorbanan mereka lahir dan batin, baik materi, tenaga dan pikiran yang telah dicurahkan untuk kepentingan anak-anaknya. Walaupun mereka tidak mengharapkan balasan atas kasih sayang dan pengorbanan kepada kita.
Namun tidak selayaknya kita mengabaikan kewajiban menghormati dan menuruti segala nasehat dan perhatiannya. Kakek, nenek, paman, bibi, dan kerabat kita yang lebih tua juga harus kita hormati dan kita perlakukan seperti orang tua kita. Oleh karena itu kita harus berlaku hormat dan sopan, tidak bersikap melawan atau menentang pada saat ada perselisihan. Karena bila kita bersikap hormat dan sopan insya’ Allah mereka pun akan berlaku sama.

Agama Islam mengajarkan agar kita selalu hormat dan sopan kepada semua orang yang lebih tua, dari mereka yang sudah mengenyam banyak pengalaman, kita memperoleh ilmu untuk bekal dimasa datang. Kita mendapat warisan kebudayaan yang akan kita teruskan, apalagi para pahlawan yang turut memerdekakan bangsa kita. Barang siapa yang bersikap hormat kepada orang yang lebih tua, maka akan dijanjikan oleh Rasulullah SAW, akan dihormati pula pada masa tuanya nanti dan apabila tidak menghormati orang yang lebih tua maka Rasulullah SAW, pun tidak hendak mengakui seseorang tersebut sebagai umatnya.
2.     Etika Pergaulan Dengan Orang Yang Sebaya
Orang mukmin terhadap orang mukmin lainnya, tak ubahnya bagaikan sesuatu bangunan yang bagian-bagiannya (satu sama lain) kuat mengkuatkan. (HR Muslim).
Barang siapa yang berjalan dalam upaya memenuhi kebutuhan saudaranya, dan usaha ini berhasil, adalah lebih baik daripada beri’tikaf sepuluh tahun. Dan barang siapa beri’tikaf satu hari saja karena Allah, maka Allah menjauhkan antara dia dan neraka sejauh tiga parit yang lebih jauh dari antara ujung bumi sebelah barat dan timur. ( HR Baihaqi).

KETERANGAN
Sebaya bisa berarti sama usianya, maka dari itu pergaulan dengan orang sebaya sangat penting. Hampir setiap hari, dikalangan masyarakat maupun di sekolah, kita sering kali berkumpul dengan teman sebaya yang memiliki kesamaan dengan kita dalam beberapa hal. Pada saat kita kesulitan, merekalah orang yang tepat untuk m\dimintai tolong baik bersifat pribadi pun kita lebih terbuka.

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berhubungan dan saling membutuhkan satu sama lain, setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan serta memerlukan bantuan orang lain. Dalam pergaulan sehari-hari kita sela bersama mereka, maka kita patut menghormatinya serta menghargai kedudukan mereka, demikian pula mereka akan menghormati dan menghargai kita, cara bergaul yang baik dengan mereka (orang sebaya) yaitu hendaknya kita turut memikirkan dan mempedulikan persoalan dan kesulitan mereka serta turut meringankan beban permasalahannya.
3.     Etika Pergaulan Dengan Orang Yang Lebih Muda
Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (QS. Al Hijr: 88)
Bahwasannya Allah telah mewahyukan kamu agar kamu bertawadhuk (rendah hati) hingga tak seorang pun yang bersombong diri terhadap lainnya, dan tidak ada seorang pun yang menganiaya yang lainnya. (HR Muslim).
Bukan dari umatku orang yang tidak belas kasihan kepada yang lebih kecil dan tidak menghargai kehormatan yang lebih tua. (HR Abu Daud dan Tirmidzi).
Siapa yang berkata kepada anak kecil: “mari kemari, ini untukmu, kemudian tidak memberi apa-apa kepadanya, maka hal itu berlaku bohong”. (HR Ahmad).
KETERANGAN
Dalam pergaulan, tidak hanya orang yang lebih tua dan orang yang menjadi perhatian kita untuk selalu kita hormati, tapi juga orang-orang yang lebih muda. Islam menganjurkan kita agar bersikap merendah dan santun sesama mukmin, termasuk orang yang lebih muda dari kita. Walau kita banyak kelebihan dibanding mereka, kita tak boleh sombong, dan congkak pada mereka justru kita harus membantunya dengan penuh kasih sayang dan segala kecintaan.

Pergaulan dengan orang lebih muda termasuk juga terhadap orang yang keadaan perekonomiannya rendah, pengetahuan dan pengalamannya lebih lemah dari kita, juga anak yatim dan fakir miskin. Terhadap mereka kita wajib menyantuni dan bersikap penuh kasih sayang, tidak berbuat dan berkata kasar, tidak menghina keadaan dan derajat mereka. Jika kita tidak hormat dan tidak sopan terhadap mereka yang lebih muda dari kita, maka niscaya mereka pun tidak akan menghormati kita.
4.     Etika Pergaulan Dengan Sesama Muslim Dan Umat Islam
Hai orang-orang beriman jika datang kepadamu orang fasik membawa satu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpa suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kami menyesal atas perbuatanmu. (QS. Al Hujuraat: 6).
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah saudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmatnya. (QS. Al Hujuraat: 10).
KETERANGAN
Pergaulan antar sesama muslim berkaitan dengan peraturan-peraturan tentang pergaulan umat Islam antar satu golongan atau satu agama. Kita sebagai muslim dan umat Islam yang menganut ajaran Allah harus mengetahui bagaimana etika pergaulan dikalangan masyarakat muslim, yaitu kita harus bertingkah laku yang sopan santun, lemah lembut dan tidak bertindak salah (keliru) kita harus bisa membedakan yang baik dan buruk seperti halnya bagaimana kita menghadapi berita khayal (kosong) yang dibawa dan disebarkan oleh orang fasik dan jail.
Cara menyelesaikan persengketaan antar sesama orang muslim yang timbul dikalangan umat Islam, yaitu dengan bersatu padu dalam satu tujuan melawan kejahilan orang karena pada dasarnya muslim dan mu’min itu bersaudara hubungannya sangat erat sekali bagaikan bangunan, jika satu penyangga hilang akan roboh, begitu dengan kaum muslim satu ceroboh akan mendatangkan musibah.

5.     Etika Dalam Berbicara Kepada Masyarakat
Dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat- menasehati supaya menepati kesabaran. (QS. Al Asr: 3).
Dan katakanlah kepada hamba-hambaKu: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)”, dan sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan antar mereka, sesungguhnya setan itu musuh nyata bagi manusia.
Sesungguhnya Allah membenci kami karena tiga perkara: adalah berkata begini dan berkata begitu, menghambur-hamburkan uang dan banyak bertanya. (HR Jama’ah dari Al Mugirah).
KETERANGAN
Alat komunikasi paling utama dalam pergaulan adalah berbicara, dengan bicara kita dapat menyampaikan sesuatu, sebaliknya kita juga dapat mengetahui keinginan orang lain. Berbicara bisa mendatangkan banyak orang (teman) dan bisa pula mendatangkan musuh, maka dari itu kita harus pandai-pandai menjaga cara berbicara kita dengan baik. Agama Islam mengajarkan agar kita berbicara sopan supaya tidak berakibat merugikan diri sendiri ataupun orang lain.
Mulut dapat kita gunakan sebagai nasehat akan kebenaran hindarilah cara bicara yang bisa menimbulkan perselisihan karena perselisihan itu kehendak setan yang ditujukan untuk mengadu domba, fitnah, isu dan gosip.

Dikutip dari: dayah pesantren baitul arqam

MENCINTAI AL-QUR’AN DAN HADITS



September 24, 2012

Mempelajari Al-Qur’an adalah kewajiban bagi setiap muslim. Rosululloh SAW pernah bersabda yang artinya “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang mau belajar Al-Qur’an dan mau mengajarkannya.
Iman kepada kitab-kitab Alloh merupakan salah satu pokok kepercayaan dalamislam.pengakuan iman seseorang tidaklah berarti tanpa meyakini keberadaan Al-Qur’an. Disamping beriman kepada Al-Qur’an, setiap muslim wajib beriman kepada rosul-rosul Alloh (termasuk Hadits nabi Muhammad saw). Kecintaan kepadaAl-Quran dan Hadits harus dapat di buktikan dalam kehidupan sehari-hari.
A. Cara mencintai Al-Qur’an dan Hadits
Mencintai berarti merasa senang terhadap yang dicintai. Rasa senang itu tentunya akan terwujud dalam perbuatan yang nyata.
1.   Pengertian Mencintai Al-Qur’an dan Hadits
Cinta berarti selalu mengingat dan memikirkan dalam hati, kemudian terwujud dalam tindakan nyata. Orang yang mencintai sesuatu, hatinya akan selalu mengingat dan memikirkannya. Dia akan rela berkorban untuk sesuatu yang dicintainya.
Al-Qur’an dan Hadits adalah dua sumber utama dalam hokum islam. Setiap orang islam hrus mencintai keduannya karena dengan demikian dia akan selamat,baik di dunia maupun di akherat. Orang yang mencintai Al-qur’an dan hadits, dia akan selalu mengutamakan keduanya diatas yang lain. Kecintaan terhadap AlQur’an dan Hadits akan membuatnya selalu ingin mengetahui lebih dalam ajaran yang terdapat di dalamnya.
2.   Perintah mencintai Al-Qur’an dan hadits
Sebagai orang muslim mencintai Al-Qur’an dan Hadits adalah suatu kewajiban. Perintah mencintai Al-Qur’an dan hadis banyak kita jumpai, baik dalm Al-Qur’an maupun dalam hadits. Berikut ini beberapa dalil yng memerintahkan kita untuk mencintai Al-Qur’an dan Hadits.

Katakanlah (Muhammad). “Jika kamu mencintai Alloh, ikutilah aku niscaya Alloh mencintaimu dan menghapus dosa-dosamu.” Alloh Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S. Ali ‘Imron/3:31)
Ayat tersebut menyebutkan bahwa orang yang mencintai Alloh, haruslah mengikuti nabi Muhammas SAW.orang yang mencintai Alloh, berarti dia mencintai Al-Qur’an sebagai kalam-Nya. Diapun harus mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw sebagai penerima wahyu Al-Qur’an. Mengikuti nabi Muhammad saw berarti menerima dan mencintai hadits sebagai ajaran-ajaran beliau.
Rosululloh saw pernah berpesan kepada umatnyaagar senantiasa berpegang pada Al-Qur’an dan hadits. Dengan berpegang kepada keduanya, umat islam tidak akan tersesat baik di dunia maupun dalam akhirat. Rosululloh bersabda sebagai berikut:
تَرَكْتُ فِيْكُمْ اًمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ . (رواه مالك)
“ Aku tinggalkan kepadamu dua perkara. Kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Alloh (Al-Qur’an) dan sunah Nabi-Nya (Hadits). (H.R. Malik dari Umar bin Khottob No. 1935)
Sebuah Hadits yang diriwayatkan imam al-Bukhari, nabi Muhammad saw menyatakan bahwa untuk mencapai kenikmatan iman ada beberapa syarat. Syarat pertama adalah mencintai Alloh (Al-Qur’an) dan Rosul-Nya (Hadits) melebihi kecintaanya kepada yang lain. Seperti dalam Hadits berikut
“Ada tiga hal yang barang siapa mencapainya, dia akan merasakan nikmatnya iman : AllohAlloh dan Rosul-Nya dia cintai melebihi segala-galanya, mencintai orang lain hanya karena Alloh, dan membenci kekafiran sebagaimana dia kebenciannya dimasukkan kedalama api neraka. (H.R. al-Bukhori dari Anas bin Malik No.15)
3.   Bentuk-Bentuk Mencintai Al-Qur’an dan Hadits
Mencintai Al-Qur’an dan hadits dapat diwujudkandalam beberapa bentuk, antara lain :
a.    Berusaha memiliki kitab Al-Qur’an dan Hadits meskipun harus menyisihkan uang saku ;
b.   Memiliki kemauan untuk dapat membaca al-Qur’an dan Hadits secara benar meskipun harus mengeluarkan biaya;
c.   Memiliki kemauan yang sunguh-sungguh untuk dapat memahami isi Al-Qur’an dan hadits secara benar;
d.   Rajin mendatangi majelis-majelis ilmu yang mempelajari Al-Qur’an dan Hadits;
e.   Tidak suka apabila ada pihak lain yang merendahkanatau menghina Al-Quran dan Hadits;
f.   Berusaha menjaga kesucian al-Qur’an dan hadits tanpa memandang remeh;
g.  Memiliki kepedulian apabila melihat lembaran yang bertuliskan Al-Qur’an dan Hadits berceceran dengan mengumpulkan atau membakarnya.
4.   Manfaat mencintai Al-Qur’an dan Hadits
Al-Qur’an dan hadits merupakan dua kitab pokok dalam memahami ajaran islam. Mencintai keduanya tentu banyak membawa manfaat. Di antara manfaat mencintai Al-Qur’an dan Hadits adalah sebagai berikut:
a.    Memperoleh nasihat, obat hati, petunjuk dan rahmat dari Alloh swt. Seperti dalam firman-Nya :
Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman (Q.S. Yunus/10:57)
    Dalam mengarungi kehidupan di dunia ini, manusia pasti menghadapi berbagai persoaalan. Adakalanya persoalan itu mudah diselesaikan, tetapi adakalnya sulit untuk diselesaikan, dalam menghadapi persoalan yang sulit diselesaikan, manusia sering mengalami tekanan batin. Dengan mendekatkan diri kepada petunjuk Al-Qur’an dan Hadits, manusia dapat memperoleh ketenangan jiwa. Akhirnya dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapi.
b.   Terhindar dari kesesatan dan kecelakaan dunia dan Akhirat. Seperti dalam Firman Alloh Q.S. Toha/20:123 :
…jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk dari-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.
c.    Memperoleh kecintaan dan ampunan dari Alloh swt, seperti dalam firmannya:
Katakanlah (Muhammad). “jika kamu mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu “ Alloh mahapengampun, Maha Penyayang.(Q.S. Ali ‘Imron/3:31)
B. Perilaku Orang yang mencintai Al-Qur’an dan Hadits
Setelah memerhatikan bentuk-bentuk mencintai Al-Qur’an dan Hadits,perilaku mencintai keduanya dapat diwujudkan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1.   Berupaya mewujudkan berdirinya taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di lingkungan masing-masing:
2.   Ikut serta secara aktif dalam upaya melancarkan jalannya TPQ, baik dengan pikiran, tenaga maupun materi;
3.   Menyediakan waktu khusus untuk mempelajari Al-Qur’an dan hadits untuk kemudian diajarkan kepada orang lain;
4.   Mengajak orang-orang yang belum mau belajar Al-Qur’an dan hadits;
5.  Selalu menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai dasar dalam segala tindakan dan cara berpikirnya.
Rangkuman
1.   Mencintai Al-Qur’an dan Hadits bagi setiap muslim hukumnya Wajib
2.   Orang yang mencintai Al-qur’an dan hadits akan menempatkan keduanya diatas segala-galanya.
3.   Diantara bentuk-bentuk mencintai Al-Qur’an dan Hadits, antara lain:
a.    Berusaha memiliki kitab Al-Qur’an dan Hadits meskipun harus menyisihkan uang saku ;
b.   Memiliki kemauan untuk dapat membaca al-Qur’an dan Hadits secara benar meskipun harus mengeluarkan biaya;
c.   Memiliki kemauan yang sunguh-sungguh untuk dapat memahami isi Al-Qur’an dan hadits secara benar;
d.   Rajin mendatangi majelis-majelis ilmu yang mempelajari Al-Qur’an dan Hadits;
e.   Tidak suka apabila ada pihak lain yang merendahkanatau menghina Al-Quran dan Hadits;
f.    Berusaha menjaga kesucian al-Qur’an dan hadits tanpa memandang remeh;
g.  Memiliki kepedulian apabila melihat lembaran yang bertuliskan Al-Qur’an dan Hadits berceceran dengan mengumpulkan atau membakarnya.
4.   Diantara manfaat mencintai Al-Qur’an dan hadits adalah :
a.   Memperoleh nasihat, obat hati, petunjuk dan rahmat dari Alloh swt.
b.   Terhindar dari kesesatan dan kecelakaan dunia dan Akhirat.
c.   Memperoleh kecintaan dan ampunan dari Alloh swtLatihan
Jawablah pertanyaan berikut secara singkat dan tepat !
1.   Jelaskan pengertian mencintai Al-Qur’an dan Hadits !
2.   Mengapa kita perlu mencintai Al-Qur’an dan Hadits?
3.   Bagaimana cara mencintai Al-Qur’an dan Hadits?
4.   Apa usaha yang dilakukan masyarakat untuk menjaga Al-Qur’an dan Hadits ?
5.   Berikan contoh bentuk mencintai Al-Qur’an dan Hadits dalam kehidupan sehari-hari!


Dikutip dari: dayah pesantren baitul arqam

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More